Wanita adalah makhluk yang lembut dan penuh cinta. Mereka hadir untuk menutupi kekurangan dan juga sebagai pelengkap kehidupan pria di dunia.
Namun dalam kehidupan sehari-hari wanita sering dianggap sebagai the weaker sex (kaum lemah) atau the second sex (kaum kelas dua). Kedudukannya didalam masyarakat lebih rendah daripada pria. Mereka selalu dipaksa untuk tunduk dan mengikuti semua kemauan pria.
Wanita itu indah, tetapi banyak wanita yang keindahannya dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk memuaskan mata pria. Hal itu bisa kita lihat dalam iklan yang ditayangkan di televisi, misalnya iklan shampoo, sabun mandi dll. Tak cukup dengan iklan, banyak juga yang menggunakan wanita dan keindahannya dalam dunia perfilman. Kebanyakan pria mencari dan menonton film yang menarik dan merangsang, yaitu film yang memamerkan kemolekan tubuh wanita. Sedangkan film yang tidak memperlihatkan adegan tersebut tidak begitu diminati. Hal ini menjelaskan bahwa, selama ini tubuh wanita telah dijadikan sebagai objek komersialisasi seksual.
Fenomena komersialisasi seksual wanita bisa juga terjadi dalam dunia sastra. Dalam novel dan cerpen, ada pengarang yang sengaja menyelipkan gambaran seksualitas wanita. Digambarkan bahwa tokoh pria memperebutkan tokoh cantik yang menjadi tokoh utama. Ada kalanya perebutan itu semata-mata dilakukan untuk pemenuhan nafsu.
Dari fenomena itu, maka dilakukanlah penelitian sastra yang berspektif feminis. Dasar penelitian itu adalah seperti yang tercantum dalam buku “KRITIK SASTRA FEMINIS”, yaitu upaya pemahaman kedudukan perempuan seperti tercermin dalam karya sastra. Pertama, kedudukan dan peran para tokoh wanita dalam karya sastra Indonesia menunjukkan masih didominasi olaeh pria. Dengan demikian, upaya pemahamannya merupakan keharusan untuk mengetahui ketimpangan gender dalam karya sastra, seperti terlihat dalam realitas sehari-hari masyarakat.
Kedua, dari resepsi pembaca karya sastra Indonesia, secara sepintas terlihat bahwa para tokoh permpuan dalam karya sastra Indonesia tertinggal dari tokoh prianya, misalnya dalam hal latar sosial pendidikannya, pekerjaannya, perannya dalam masyarakat, dan pendeknya, derajat mereka sebagai integral dan susunan masyarakat.
Ketiga, masih adanya resepsi pembaca karya sastra Indonesia yang menunjukkan bahwa hubungan antara pria dan wanita hanyalah merupakan hubungan yang didasarkan pada pertimbangan biologis dan sosial –okonomis semata-mata. Pandangan seperti ini tidak sejalan dengan pandangan yang berspektif feminis bahwa perempuan mempunyai hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dengan pria. Wanita dapat ikut serta dalam segala aktivitas kehidupan bermasyarakat bersama pria.
Keempat, penelitian ssastra Indonesia telah melahirkan banyak perubahan analisis dan metodologonya, salah satunya adalah penelitian sastra yang berspektif feminis. Tampak adanya kesesuaian dalam realitas penelitian sosial yang juga berorientasi feiminisme. Mengingat sastra yang berspektif feminis belum banyak dilakukan, sudah selayaknya para peneliti melirik data penelitian yang berlimpah ruah ini.
Kelima, lebih dari itu, banyak pembaca yang menganggap bahwa peran dan kedudukan wanita lebih rendah dari [ria seperti nyata diresepsi dari karya sastra Indonesia. Oleh karena itu, pandangan ini pantas dilihat kembbali melalui penelitian sastra berspektif feminis.
Sementara itu, masih dalam buku “KRITIK SASTRA FEMINIS”, Prihatmi (1977) menyatakan bahwa jumlah pengarang wanita Indonesia masih sedikit. Dan dari yang sedikit itu, jarang yang produktif menghasilkan karya besar. Menurutnya, kesibukan keluarga sering menjadi rintangan. Setapak keluar dari pagar konvensi dan tradisi, celaan masyarakat akan menghujaninya. Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan dari seorang pengkritik, mengapa hasil karya pengarang wanita sedikit? Selanjutnya menurut Prihatmi bahwa, banyak diantara pengarang wanita Indonesia selalu mengajukan seorang wanita selaku tokoh utamanya. Rupa-rupanya penokohan wanita itu dapat menjadi corong bicara pengarang dalam meneriakkan emansipasi dan protes terhadap tradisi-tradisi kaku yang membelenggu mereka, terhadap kesewenang-wenangan kaum pria.
Wanita memang lemah, namun secara fisik. Secara mental wanita jauh lebih kuat dari pria. Mereka lebih sabar menghadapi masalah, lebih teliti dan berhati-hati dalam bertindak, tak seperti kebanyakan pria. Maka tak sepantasnya mereka diperlakukan kasar dan dimanfaatkan.
Seiring berjalannya waktu, kedudukan wanita dimasyarakat mulai diakui dan disamakan dengan pria. Eksistensi mereka mulai diperhitungkan didalam dunia seni, sastra bahkan didunia politik.
Sudah sepantasnya seorang pria menghormati wanita. Tanpa wanita, mustahil terlahir seorang pria. Karena wanita lah yang melahirkan pria dan tentunya wanita lainnya. Seorang pria juga harus menghargai wanita, menjadi imam yang selalu menuntun dan membimbing mereka dengan cara yang halus dan lembut pastinya. Karena, wanita diciptakan dari tulang rusuk pria yang tidak untuk disiksa, diinjak-injak dan dimanfaatkan, melainkan untuk dijaga, dimengerti, dicintai dan disayangi.













